Senin, 20 Maret 2017

Kamis, 16 Maret 2017

Treatment Akustik Ruang

Pentingnya Treatment Akustik pada Sebuah Ruang

Kondisi yang menelantarkan treatment akustik, ibarat menghilangkan sebuah elemen penting dalam sebuah lingkaran sistem reproduksi suara.
Mengapa treatment akustik pada sebuah ruang home theatre menjadi sangat penting untuk dilakukan?

Alasannya, karena suara adalah obyek yang mobile/bergerak. Sebelum sampai ke telinga kita, suara terlebih dahulu melewati ruangan. Sehingga suara yang terdengar di telinga kita adalah kombinasi dari direct sound (lihat di istilah akustik ruang) speaker dan refleksi inderect sound yang dapat menyebabkan adanya distorsi akustik.
Kontrol pantulan suara menjadi masalah utama dalam setiap pembuatan ruang. Makin mampu kita mengontrol arah suara, termasuk meminimalisir cacat suara, maka suara akan semakin bagus terdengar di telinga kita.
Kontrol semacam itu bukan menjadi tanggung jawab komponen atau perangkat semata, kalau sudah membicarakan bunyi yang tentunya berhubungan langsung dengan udara, maka pasti terkait dengan obyek-obyek di dalam ruangan.
Jadi dalam hal ini, masalah menata/menangani “bentuk dan bahan benda/obyek” yang berada di dalam ruangan menjadi menu utama dalam usaha meminimalisir distorsi yang ditimbulkannya.

Ruang Kecil
Umumnya orang berpatokan suara yang benar/bagus/baik adalah suara yang natural. Natural yang berarti kondisi kualitas suara yang dihasilkan di sebuah ruangan sama dengan saat suara tersebut direkam. Natural telah menjadi patokan baku dalam mendapatkan suara yang sempurna di setiap sistem. Kondisi ini sangat sulit sekali didapatkan dalam kondisi ruangan yang kecil. Karena ruangan yang kecil akan memungkinkan banyaknya terjadi pantulan-pantulan bunyi, apalagi jika ruangan dipenuhi jajaran speaker yang pastinya semakin menambah banyak sumber penghasil suara. Selain memantulkan suara, dinding juga bersikap menyerap suara yang mengenainya. Dalam hal ini, tidak mungkin semua pantulan bunyi ikut diserap. Karena hasilnya, suara dalam ruangan tidak akan terdengar natural. Sayangnya masih banyak orang yang menganggap, bahwa besarnya daya serap dinding panel menjadi satu-satunya solusi, padahal di lain pihak teknologi baru telah banyak dibuat yang pada intinya permukaan panel dibangun sedemikian rupa agar permukaan tidak terkena pantulan suara atau menyerap suara secara langsung. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya distorsi suara, bukan hanya asal tebal semata.

Ruangan yang biasanya dilakukan treatment akustik antara lain hall, panggung, auditorium, studio, dan ruang home theater.
Ada beberapa cara mendesain akustik ruang, yaitu :
a.   dengan material penutup dinding,
b.   bentuk dinding dan ceiling (langit-langit),
c.   tekstur permukaan dinding, dan lain-lain.
d.   pengaturan peralatan tata suara,
Dinding merupakan bidang masive yang akan memantulkan suara jika tidak terdapat bahan yang bisa menyerap gelombang suara pada dinding tersebut.
Untuk menghindari suara pantul yang bisa mengaburkan suara langsung maka diperlukan bahan penyerap suara untuk melapisi dinding. 

BAHAN AKUSTIK
Sebagian dari anda tentu sudah mengetahui bahan apa yang sering dipakai sebagai bahan akustik. Kita bisa saja memakai bahan, seperti glasswool, gypsum, MDF, Triplek, dan Diffuser.
Glasswool. Bahan Glasswool digunakan untuk menyerap frekuensi tinggi. Glasswool dibedakan berdasarkan kerapatan dan density. Ada yang K16, K24, dan lebih besar dari angka ini. Angka ini menunjukkan berapa kerapatan per meter kubiknya. Kian tinggi angka “K”nya berarti kian rapat glasswoolnya dan cenderung menyerap frekuensi tinggi lebih besar.
Gypsum. Bahan Gypsum biasa dipakai untuk treatment kedap suara (suara luar tak masuk dan sebaliknya).
MDF( Medium Density Fiber). Bahan MDF merupakan bahan yang berfungsi sebagai penyerap frekuensi rendah (perforated absorber atau split absorber).     Disini panel panel MDF dilubangi dengan jarak sesuai kebutuhan.
Triplek. Bahan ini untuk membuat konstruksi penyerap frekuensi rendah (bass). Bahan triplek seukuran tebal 3-4 milimeter.
DIFFUSER. Bahan Diffuser adalah sebuah papan penyebar suara dengan kemampuan menyebarkan suara secara seragam untuk desain bandwidth berapapun. Bahan diffuser dibuat berdasarkan prinsip dan rumus perhitungan tertentu sehingga menghasilkan beberapa ragam jenis dan bentuk diffuser.
Dengan bahan-bahan akustik tersebut, kita bisa membuat ruang akustik sesuai yang kita inginkan. Bahan-bahan tersebut berperanan sebagai diffuser atau absorber. Untuk menentukan mana yang diffuser dan absorber, desainer sering memakai semacam simulasi komputer. Simulasi ini penting untuk bisa menentukan bagian mana dari ruang yang akan dipasangi diffuser, absorber dan lain lainnya.
Sebagai panduan (guidance), biasanya dinding ruang di belakang kita dipasangi diffuser. Dan ruangan dinding depan yang membelakangi speaker, dipasangi absorber.

Macam-macam jenis diffuser :
Primitive Root

  1D Quadratic Residue Diffuser

2D Quadratic Residue Diffuser

Binary Amplitude Grating

Geometric Diffuser




Sumber : Majalah AUVI Audipo Video No. 21 Tahun VI Tanggal 22 November 2004


Video 1a
Berikut ini adalah video contoh pemasangan bahan akustik:
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=nfL0OIdbII0


Video 1b
Berikut ini adalah video contoh pemasangan peredam suara:


Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=arbaQ3mwEfA&t=5s

Akustik Ruang Home Theater

AKUSTIK RUANG
( Pelipur Cacat Suara )

The room is first thing we start with, and the last thing we think about - unknown.

Keberadaan ruang sudah pasti menjadi syarat tersendiri untuk membuat sebuah sistem ruang dengar termasuk home theater. Tinggal penggarapannya yang menentukan sebuah ruangan layak atau tidak menerima dispersi suara.
Alangkah sayangnya, jika kita sudah memiliki susunan perangkat yang mahal, bagus, dan tentu saja secara spesifikasi berkualitas tinggi, namun ditempatkan di sebuah ruangan yang “miskin”. “Miskin” mengandung arti “tanpa treatment” apapun yang memungkinkan suara yang direproduksi tampil tidak optimal dan harus bersusah payah mempertahankan kualitas yang direproduksi sistem yang digunakan.
Treatment pada ruangan dalam sebuah sistem dengar atau home theater dikenal pula dengan istilah treatment akustik.
Akustik Ruang terdefinisi sebagai bentuk dan bahan dalam suatu ruangan yang terkait dengan perubahan bunyi atau suara yang terjadi.
Akustik sendiri berarti gejala perubahan suara karena sifat pantul benda atau objek pasif dari alam.
Akustik ruang banyak dikaitkan dengan dua hal mendasar, yaitu :
  • Perubahan suara karena pemantulan.
  • Gangguan suara karena ketembusan suara dari ruang lain.   
Akustik melibatkan desain teknis dan bahan baku tertentu yang intinya meminimalisir cacat suara, kalau perlu menghilangkan cacat suara dari reproduksi suara, tak terkecuali suara yang dihasilkan langsung dari speaker (direct sound).

Istilah yang familiar dengan Akustik Ruang
Untuk membangun sebuah fondasi yang bagus untuk memahami lebih jauh tentang akustik ruang, ada baiknya kita mengenal istilah yang lekat dengan tema akustik.
·        Direct Sound : suara yang terdengar oleh manusia langsung dari speaker. Kebalikan dari direct sound adalah inderect, reflected atau ambient sound.
·         Indirect Sound : inderect sound, reflected sound, ambient sound, dan diffuse sound pada dasarnya memiliki arti yang sama. Ini adalah suara yang datang ke pendengar lewat beberapa path (alur), selain yang dapat didengar langsung dari speaker (direct sound). Inderect sound dapat berupa suara pantulan, penyebaran atau bagian suara yang terserap.
·         Reflected Sound : suara yang pada akhirnya menabrak permukaan dinding. Sebagian besar reflected sound merupakan bagian dari suara yang seharusnya diserap atau disebarkan.
·         Ambient Sound : lihat pada inderect sound. Ambient sound lebih bersumber dari alam atau suara di lingkungan sekitar. Misalnya suara angin, hujan, petir, gesekan daun, kesibukan lalu-lintas, pesawat, mesin, percakapan orang di sekitar, putaran AC, aliran air/uap dalam pipa, putaran motor listrik, dll.
·         Diffuse sound : merupakan suara pantulan yang arahnya menyebar tidak beraturan.
·         Reverberant Sound : merupakan format lain dari indirect sound. Reverberant sound biasanya menabrak panel beberapa kali (lebih dari satu pantulan) dan berisi energi yang merupakan bagian dari koherensi. Pada level yang sangat rendah, reverberant sound sukar dideteksi.
·         Total sound : adalah jumlah keseluruhan antara direct sound dan indirect sound.
·         Respon Frekuensi : atau istilah familiarnya “tanggapan frekuensi” merupakan respon normal untuk pendengaran manusia, biasanya berkisar antara 20 Hz hingga 20 kHz.
·         Reverberation Time : adalah saat suara di dalam ruangan rusak hingga tidak bersuara.
·         Pink Noise : memiliki energi yang sama dengan per 1/3 oktav band. Maka dalam skala frekuensi linear terlihat banyaknya energi yang hilang pada frekuensi tinggi dibandingkan dengan yang berfrekuensi rendah. Pink noise sering digunakan untuk tes pengukuran situasi.
Pink noise bisa dibangkitkan oleh acoustic synthesizer untuk menghasilkan suara efek yang menyerupai selancar di pantai, suara angin yang melewati pepohonan, suara roket meluncur, dan fenomena yang lainnya.



Sumber: Majalah AUVI Audio Video No. 21 Tahun VI Tanggal 22 November 2004